Kilatriau.id Berjuang demi kebenaran. Luka lama masyarakat Muara Langsat, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi, kembali terbuka. Dalam resesnya di Teluk Kuantan pada Selasa (28/10/2026), Anggota DPR RI Komisi III, Siti Aisyah, mendengar langsung jeritan hati warga yang selama ini terjepit dalam konflik lahan yang tak kunjung usai.
Siti Aisyah, yang mewakili PDI-Perjuangan Dapil II Riau, menegaskan bahwa kasus ini akan menjadi salah satu fokus perhatiannya di Kuansing. Baginya, konflik yang telah memakan korban dan “berdarah-darah” ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.
Konflik masyarakat di Muara Langsat yang berdarah-darah dan memakan korban – apakah tersangka hanya satu orang? Dan apakah otak intelektual di balik semua ini sudah diperiksa? Yang paling penting: apakah masyarakat sudah benar-benar mendapatkan keadilan?” tegas Siti Aisyah di hadapan awak media.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjuangan Kelompok Tani 80 Sumber Berkah dimulai sejak 2024. Lahan seluas 55,2 hektare yang statusnya jelas milik masyarakat, hingga kini belum bisa dinikmati oleh para petani. Justru sebaliknya – pihak Barito Erson Napitupulu yang memanen hasilnya, bahkan diduga menggunakan tenaga kerja di kebun tersebut sebagai “tameng” untuk mempertahankan penguasaan yang dianggap tidak sah.
Dalam pertemuan tersebut, Sugiono hadir didampingi oleh penasihat hukumnya, Ferindoni, S.H., M.H. dan Ikhsan, S.H., M.H. Kehadiran mereka menegaskan bahwa perjuangan masyarakat bukan sekadar tuntutan di jalan, melainkan upaya menegakkan kebenaran melalui jalur hukum yang benar.
Sugiono, Ketua Kelompok Tani 80 Sumber Berkah, menyampaikan haru sekaligus lelahnya. Berjuang sendirian selama bertahun-tahun, akhirnya suaranya terdengar juga ke tingkat pusat.
“Kami berjuang sejak 2024, hingga hari ini lahan itu belum bisa kami kuasai. Sungguh terharu hati kami, akhirnya kami bisa menyampaikan langsung aspirasi ini kepada Ibu Anggota DPR RI,” ucap Sugiono dengan suara bergetar.
Puluhan bulan telah berlalu, namun keadilan atas 55,2 hektare tanah yang menjadi tumpuan hidup puluhan keluarga itu masih terasa jauh di awan. Kini mata masyarakat tertuju pada langkah nyata yang akan diambil – bukan sekadar mencari siapa yang bersalah, tetapi memastikan kebenaran benar-benar menang.











