Dari Sungai Kuantan Menuju Dunia: Obsesi Budaya Sang Datuk Panglimo Dalam yang Menghidupkan Pacu Jalur

- Admin

Senin, 7 Juli 2025 - 18:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kilatriau.id | Kuantan Singingi — Di tengah gempuran modernisasi dan derasnya arus globalisasi yang membuat banyak warisan budaya terpinggirkan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) justru menghadirkan pengecualian yang menginspirasi. Tradisi Pacu Jalur, lomba dayung khas Melayu Riau, tak hanya bertahan—tetapi kini menjelma sebagai fenomena budaya yang mendunia.

Di balik kebangkitan tradisi ini, satu nama mencuat kuat: Dr. H. Suhardiman Amby, sosok yang dikenal luas dengan gelar adatnya, Datuk Panglimo Dalam. Ia bukan hanya penggerak, tapi jiwa dari semangat Pacu Jalur hari ini. Julukan “gila pacu jalur” disematkan padanya bukan sebagai celaan, melainkan penghargaan atas kecintaan totalnya terhadap warisan budaya leluhur.

Kita masih ingat debat panas Pilkada 2024, ketika lawan politiknya, Halim dan Adam Sukarmis, mencibir kebiasaan Suhardiman menggelar festival Pacu Jalur hampir setiap bulan. Mereka menyebutnya pemborosan anggaran, mempertanyakan dampak ekonominya. Namun Suhardiman tak gentar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Budaya bukan proyek instan yang dinilai dari APBD. Ini investasi jangka panjang bagi identitas, solidaritas, dan kebanggaan masyarakat,” tegasnya saat itu.

Dan sejarah mencatat siapa yang akhirnya menang. Di final Pacu Jalur 2024 di Tepian Narosa, saat helikopter paralayang membawa spanduk bergambar Adam Sukarmis terbang melintas—seolah menyindir bahwa masa jabatannya akan segera berakhir—Suhardiman tetap tenang. Ia tak perlu menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan kemenangan telak dalam Pilkada, untuk periode kedua.

Baca Juga :  BAPEDALITBANG Gelar FKP, Rangkum Masukan Semua Stakeholder Untuk Kuansing

Kecintaan Suhardiman terhadap Pacu Jalur bukan sebatas retorika. Ia hadir langsung di arena, mendayung bersama warga. Bahkan di Pangean, ia sempat nyaris kehilangan nyawa saat perahu rombongannya karam di Sungai Kuantan—insiden yang viral secara nasional. Alih-alih menjadi aib, itu menjadi “iklan gratis” untuk Pacu Jalur. Dan ia tetap hadir, tetap mendayung, tetap menyemangati.

Di bawah kepemimpinannya, Pacu Jalur tak hanya menjadi agenda lokal tahunan. Ia menjadi fenomena digital global. Suhardiman mendorong kampanye budaya melalui media sosial: TikTok, Instagram, YouTube, Facebook—dengan satu semangat: “Dari Sungai Kuantan Menuju Dunia.”

Salah satu yang viral adalah fenomena “Aura Farming”—tarian jenaka dan energik anak-anak di ujung perahu jalur. Bukan hasil koreografi, tapi ekspresi murni dari akar budaya yang hidup.

Namun di balik semarak itu, Suhardiman mengingatkan bahwa Pacu Jalur bukan hiburan semata. Ia adalah ritual spiritual yang dimulai dari pencarian kayu jalur di hutan, disertai upacara adat, hingga “buka jalur” sebelum lomba. Semua itu mengandung nilai: kebersamaan, kesakralan, dan karakter masyarakat Melayu Riau.

Baca Juga :  Musda PPM Riau : Suhardiman Amby Jadi Ketum, FKPPI Kuansing Nyatakan Dukungan Penuh

Setiap jalur panjangnya bisa mencapai 40 meter, diawaki hingga 60 orang, dihiasi lambang kejayaan kampung. Tak ada pemenang tunggal. Semua harus kompak, seirama, dan ikhlas. Filosofinya sederhana tapi mendalam:

“Maju bersama atau karam bersama.”

Inilah nilai sosial yang ingin Suhardiman tanamkan dalam kehidupan berbangsa—bahwa kemenangan adalah hasil gotong royong, bukan ambisi individual.

Suhardiman Amby tentu bukan sosok yang sempurna. Tapi satu hal tak terbantahkan: ia telah mengembalikan roh Pacu Jalur kepada rakyatnya. Ia menjadikan tradisi ini bukan seremoni kosong, tapi gerakan budaya yang tumbuh, hidup, dan berkembang.

Ia membuktikan bahwa tradisi tidak harus kalah oleh zaman. Justru, dengan cinta dan visi, warisan lokal bisa bersinar di panggung global.

Dan di tengah dunia yang kerap lupa akar, Kuansing lewat Pacu Jalur menunjukkan arah sebaliknya:

Dari sungai kecil di Riau, menuju panggung budaya dunia.
Semua itu berawal dari satu hal sederhana:
Keberanian untuk percaya pada tradisi sendiri. (*)

Berita Terkait

Profil Intan Ladiva Marsya, Putri Kuansing yang Bersinar di Dangdut Academy 8
Sengketa Kebun Muara Langsat Berujung Berdarah 11 Orang Luka hingga Kritis Polisi Diminta Usut Sampai Aktor di Baliknya
Kelompok Tani 80 Sumber Berkah Kembali Kuasai Kebun yang Mereka Tanam, Kuasa Hukum: “Ini Pemulihan Penguasaan, Bukan Aksi Main Hakim Sendiri”
Alam Cahayo Tuah Nagoghi Sikat Juara 1 Tepian Lubuok Sobae
Panglimo Hitam Bintang Nagori Ketaping Jaya Ganas, Tembus Hari Ke-4 Pacu Jalur Kuantan Hilir
Tutup TMMD ke-129 Kodim 0313/KPR, Kasdam XIX/TT Berikan Apresiasi
YBM BRILiaN Resmikan Program WASH Pertama di Kuansing, Masjid Nur Muhammad Kini Dilengkapi Sarana Air Bersih
Ekspos ke Plt Gubri Plt Bupati Kuansing : Persiapan Pacu Jalur Nasional 2026 Sudah 85 Persen
Berita ini 59 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 20:23 WIB

Profil Intan Ladiva Marsya, Putri Kuansing yang Bersinar di Dangdut Academy 8

Minggu, 6 September 2026 - 23:46 WIB

Sengketa Kebun Muara Langsat Berujung Berdarah 11 Orang Luka hingga Kritis Polisi Diminta Usut Sampai Aktor di Baliknya

Sabtu, 5 September 2026 - 22:44 WIB

Kelompok Tani 80 Sumber Berkah Kembali Kuasai Kebun yang Mereka Tanam, Kuasa Hukum: “Ini Pemulihan Penguasaan, Bukan Aksi Main Hakim Sendiri”

Minggu, 16 Agustus 2026 - 19:21 WIB

Alam Cahayo Tuah Nagoghi Sikat Juara 1 Tepian Lubuok Sobae

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 18:22 WIB

Panglimo Hitam Bintang Nagori Ketaping Jaya Ganas, Tembus Hari Ke-4 Pacu Jalur Kuantan Hilir

Berita Terbaru

Berita

Alam Cahayo Tuah Nagoghi Sikat Juara 1 Tepian Lubuok Sobae

Minggu, 16 Agu 2026 - 19:21 WIB

error: Content is protected !!