Kilatriau.id – Jalur Panglimo Hitam Bintang Nagori asal Ketaping Jaya, Kecamatan Inuman, terus menunjukkan taringnya. Tim dayung kebanggaan Inuman ini berhasil melaju ke hari ke-4 Pacu Jalur Event Kebudayaan Tepian Lubuok Sobae setelah menumbangkan Kudo Putie Ghajo Kukok dari Tanjung, Kuantan Hilir Seberang, pada Sabtu (15/08/2026).
Kemenangan di hari ketiga putaran kedua itu sekaligus memutus harapan Kudo Putie Ghajo Kukok untuk ikut bertarung di laga perebutan peringkat juara teratas.
Sejak hari pertama, Panglimo Hitam tampil dominan. Aura juara sudah terasa dari start awal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Panglimo Hitam Bintang Nagori Ketaping Jaya berhasil lolos ke hari ke-4 dan berhak memperebutkan gelar juara di Pacu Jalur Tepian Lubuok Sobae. Tim Jalur Panglimo Hitam Bintang Nagori, perwakilan Nagori Ketaping Jaya, Kecamatan Inuman.
Event berlangsung 4 hari, mulai Rabu 13 Agustus hingga Minggu 16 Agustus 2026. Tiket ke hari ke-4 dikunci pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Di arena Pacu Jalur Tepian Lubuok Sobae, Kecamatan Kuantan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi.
Selain gengsi antar nagori, laga ini jadi ajang pembuktian kekuatan dayung Inuman di kancah Kuansing. Lolos ke hari ke-4 berarti Panglimo Hitam sudah masuk jajaran jalur terbaik tahun ini.
Perjalanan Panglimo Hitam terbilang mulus dan penuh drama :
1. Hari 1 : Memulangkan Jalur Putri Bungsu Sayang Tak Sudah dari Pelukahan
2. Hari 2 : Mengandaskan perlawanan Laskar Mudo Perisai Nagori dari Pasar Baru, Kecamatan Pangean
3. Hari 3 Putaran 1 : Menaklukkan Jalur Pematang Putui Bukik Bunian Lubuak Ramo, Kecamatan Kuantan Mudik
4. Hari 3 Putaran 2 : Menundukkan Kudo Putie Ghajo Kukok dari Tanjung, Kecamatan Kuantan Hilir Seberang
Dengan 4 kemenangan beruntun, Panglimo Hitam kini tinggal selangkah lagi menuju partai puncak. Sorak sorai pendukung dari Ketaping Jaya pun menggema di tepian, berharap gelar juara bisa dibawa pulang ke Inuman.
Laga penentuan di hari ke-4, Minggu 16 Agustus 2026, diprediksi akan berlangsung sengit karena hanya jalur-jalur terbaik yang tersisa.
Penulis : Muhammad Azizi











